PKBB GELAR DISKUSI ILMIAH BERTEMA PESANTREN

Acara yang diadakan oleh PKBB pada tanggal 09 Desember 2012 berupa “Diskusi Ilmiah” di ruang rapat STAI Al-Qolam mengusung tema “Pesantren dan Perubahan Sosial”. Diskusi yang dimulai jam14:00 – 17:00 WIB itu, menghadirkan dua nara sumber, yaitu: Ahmad Atho’ LH, M.Sc dari STAI Al-Qolam, dan Dr. Fauzan Zenrif, M.Ag dari UIN Malang.
Sementara itu, Bapak Drs. Nur Qomari, M.Si. (Ketua STAI Al-Qolam) dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada PKBB yang telah memfasilitasi diskusi ilmiah bagi segenap dosen dan tenaga kependidikan. Ia juga berkata, “saya selaku Pimpinan mengharapkan agar kegiatan ini sebisa mungkin dilakukan secara kontinyu supaya dinamika pemikiran pendidik dan seluruh civitas akademika kampus hijau ini tidak stagnan dan mandeg hanya pada poros pengajaran belaka, sehingga cara berfikir, dan berketerampilan mereka nantinya dapat mewarnai dan mempengaruhi perkembangan pengajaran dan pembelajaran bersama para mahasiswa”.
Menurutnya, kegiatan ini cukup penting bagi peningkatan mutu pendidikan di STAI Al-Qolam. Oleh karena itu, selayaknya aktifitas demikian ini dilakukan secara berkelanjutan yang pada akhirnya bisa melahirkan karya ilmiah dosen. Sebab, sementara sebagian besar para pendidik masih dinina-bobokkan oleh rutinitas harian antara kelas ke kelas dan antara matakuliah satu ke matakuliah lain. Padahal seiring dengan fasilitas berupa dana dan berbagai macam kemudahan yang dikucurkan pemerintah, terutama bagi dosen yang telah lulus dalam program sertifikasi, tridharma perguruan merupakan tuntutan wajib yang harus dibuktikan. Salah satu tridharma itu adalah penelitian yang dituangkan dalam bentuk karya ilmiah, baik dalam modul, buku, maupun jurnal. “Hal ini bisa diwujudkan, jika PKBB betul-betul memposisikan diri sebagai pelopor harapan-harapan tersebut. Dalam konteks inilah, PKBB dapat mengambil peran besar”. Tandasnya lagi.
Selanjutnya Atho’ LH, M.Sc, sebagai nara sumber pertama, mengawali makalahnya dengan menguraikan tentang hal yang melatarbelakangi tema yang diangkat. Menurutnya, pendidikan harus sesuai dengan tantangan zamannya. Pendidikan sebagai bekal manusia hidup seharus selaras dengan tujuan hidup manusia itu sendiri. Pada sisi lain, tantangan manusia untuk memenuhi hajat hidupnya pada tiap zaman akan selalu berbeda sebab zaman selalu berubah. Tidak ada yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri, begitulah adagium yang diterima oleh semua kalangan. Perubahan adalah sunnatullah. Kaitannya dengan pendidikan, sebagai sebuah produk peradaban yang berfungsi sebagai wahana sosialisasi dan beradaptasi oleh generasi penerus agar manusia dapat eksis dalam budayanya, maka usia pendidikan sudah setua manusia itu sendiri. Di sinilah pendidikan dituntut untuk selalu beradaptasi agar output pendidikan relevan dengan zaman uang ada. Pemikiran inilah yang dimaksud oleh Ali ibn Abi Thalib ra. sebagaimana disitir oleh Malik Fadjar dalam bukunya Visi Pembaruan Pendidikan Islam “didiklah anak-anakmu sesuai zamannya, karena mereka adalah generasi baru dan bukan generasi tatkala kamu dididik”.
Persoalan keterkaitan antara pendidikan dengan perubahan sosial, pesantren sejak awal kelahirannya telah menempatkan dirinya sebagai agen perubahan sosial di masyarakat. Watak Islam, yang tidak asosial yang dibawakan pesantren dan semangat penegakan nilai-nilai ideal yang diyakini berkelindan dengan upaya memecahkan tantangan sosial yang dihadapi, menjadikan pesantren menempati posisi sejarah sosial yang unik dalam perubahan sosial di masyarakat Indonesia. Perubahan sosial yang dimaksud adalah perubahan tatanan sosial. Perubahan tatanan sosial ini adalah tafsir sejarah masyarakat: tentang elemen-elemen dasar yang mempengaruhi dinamika historis. Kajian tentang perubahan sosial dengan demikian fokus terhadap arah perubahan dan faktor-faktor penyebab perubahan tersebut.
Pesantren yang dimaksud di sini adalah pesantren salaf; sebuah lembaga pendidikan yang mempertahankan pengajaran kitab Islam klasik sebagai inti pendidikan. Zamakhsyari Dhofir dalam bukunya memberikan batasan karakteristik pesantren salaf sebagai lembaga pendidikan yang terikat kuat dengan pemikiran fiqh, hadits, tauhid, tafsir dan tasawuf dari abad tujuh sampai abad tiga belas. Pada kenyataan sosiologisnya, pesantren salaf ini menjadi basis komunitas organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama (NU).
Tradisi pesantren secara tegas menekankan bahwa ilmu adalah alat, sebagaimana ditemukan dalam Ta’lim Muta’allim-nya al-Zarnuji yang menyatakan bahwa ilmu adalah perantara (wasilah) untuk menjadi pribadi yang takwa serta memperoleh kebahagiaan hakiki yang abadi.
Hal yang harus dipahami terlebih dahulu adalah persoalan orientasi perubahan sosial yang diidealkan Islam. Perbedaan memahami visi inilah yang kemudian mengakibatkan perbedaan manifestasi keberagaman yang muncul. Dalam beragama, paling tidak ada tiga kecenderungan: pertama, kecenderungan mistikal (solitery), kedua, profetik-ideologikal (solidarity), dan ketiga, humanis fungsional. Kecenderungan pertama lebih menekankan hubungan personal-individual antara manusia dengan Tuhannya. Puncaknya adalah bersihnya hati sehingga tercipta hubungan yang intim antara dirinya dengan Tuhan. Kecenderungan kedua lebih menekankan misi agama, maka tidak heran jika komitmen keberagaman model ini seringkali diartikulasikan melalui aset politik atau ekonomi dalam pelataran praktik sosial, terutama kekuasaan politik. Sedangkan kecenderungan ketiga memiliki titik tekan pada penghayatan nilai-nilai kemanusiaan yang dianjurkan agama. Beragama model ini adalah bereksistensi untuk memunculkan kemanusiaan dirinya yang sejati.
Berkaitan dengan hal itu, bagi Hasan Hanafi, watak sosial Islam adalah revolusioner yang membawa misi pembebasan manusia. Menurut ulama asal Mesir itu, “agama adalah revolusi sejati dan para nabi adalah revolusioner pembaharu sejati”. Ibrahim as. merupakan cermin revolusi akal dan tauhid melawan berhala-berhala. Musa as. bentuk ideal pemimpin yang tegas-tegas mampu menghadapi otoritarianisme Fir’aun. Isa as. sosok imam revolusioner pembebasan ruh dari dominasi materialisme. Dan Muhammad saw. tampil sebagai pribadi sejati bagi komunitas papa melabrak kaum borjuis Quraisy.
Dari uraian diatas menjadi jelas bahwa, dalam pandangan Islam, perubahan sosial harus mengarah pada memposisikan fungsi manusia secara benar sebagai hamba dan khalifah. Sebagai hamba, manusia dituntut mempunyai kesadaran transendental yang berpusat pada konsep tauhid, penghambaan hanya untuk Allah. Dampak turunannya, sebagai khalifah, manusia diharuskan bisa memelihara dan menggunakan alam semesta seperlunya dengan tidak boleh merusak, sebagaimana kehendak Allah. Dan yang terakhir, sebagai makhluk sosial, manusia diwajibkan untuk bisa menegakkan keadilan dengan cara membebaskan manusia dari segala bentuk penindasan.
Keterkaitan pesantren dengan pendidikan dan perubahan sosial mengharuskan pendidikan mampu mengarahkan manusia pada fungsi dan kedudukan manusia secara sebagai hamba dan khalifah. Peran pesantren dalam perubahan sosial dapat dilakukan pesantren dengan tiga fungsi; (a) sebagai lembaga keilmuan, (b) sebagai lembaga keagamaan, dan (c) sebagai lembaga sosial keagamaan. Sebagai lembaga keilmuan, core business pesantren adalah ilmu syariah. Pengembangan ilmu ghair syari’ah dilakukan harus tanpa menginkubasi masyarakat dengan ajaran Islam yang mencerminkan watak Islam sebagai agama rahmatan li al-alamin. Pesantren, paling tidak, tetap menjadi rujukan moral masyarakat. Watak sub-kultur pesantren wajib dipertahankan. Sedangkan sebagai lembaga sosial kemasyarakatan, pesantren dituntut benar-benar transformatif dan tidak sekedar karikatif. Pesantren perlu mengenal tentang sejarah sosial, baik masa lalu, saat ini, maupun yang akan datang. Dengan demikian dapat dirumuskan secara jelas problem makro maupun mikro masyarakat yang ujungnya dapat dilakukan usaha-usaha memecahkan problem tersebut dengan tepat.
Sementara itu, Dr. Fauzan Zenrif, M.Ag sebagai nara sumber kedua memulai uraiannya tentang tema tersebut dengan mengajukan sebuah pertanyaan; mengapa menarik? Selanjutnya salah staf pengajar UIN Maliki Malang itu, membahas tentang pesantren dalam perspektif payung hukum tentang pendidikan agama dan pendidikan keagamaan. Dalam PP nomor 55 tahun 2007 disebutkan bahwa pesantren atau pondok pesantren adalah lembaga pendidikan keagamaan Islam berbasis masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan diniyah atau secara terpadu dengan jenis pendidikan lainnya.
Seterusnya macam tipologi pesantren adalah; (1) Salafiyah: menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran dengan sistem tradisional dalam semua aspeknya, baik menyangkut kurikulum, metode, penjenjangan, maupun sarana dan prasarananya, (2) Khalafiyah/Modern: tetap mempertahankan nilai dan tradisi pesantren, tetapi dalam pengajarannya menggunakan sistem modern, (3) Pesantren Formal: Dalam tipe ini, pesantren berperan sebagai wadah penyelenggara sistem sekolah atau madrasah formal dengan menggunakan kurikulum Diknas [Kemendiknas] maupun Depag [Kemendepag] dari mulai jenjang dasar sampai jenjang perguruan tinggi, (4) Pesantren Non-Formal: pesantren tipe ini hanya berperan sebagai wadah tempat pemondokan, meskipun ada program-program pengajian pesantren, para santrinya secara formal sekolah di lembaga pendidikan formal di luar sekolah. Di luar tipologi pesantren itu, hal yang pokok dalam dunia pesantren ialah terwujudnya kekuatan yang dimiliki oleh pesantren. Kelebihan itu adalah; (1) kharisma kiai, (2) citra positif, dan (3) bangunan spiritualitas dan moralitas.
Sedangkan perbincangan tentang tema perubahan sosial, menurut Dr. Fauzan, harus dirunut dari; (1) pengertian perubahan sosial, (2) faktor perubahan sosial, dan (3) proses dan pola perubahan sosial. Perubahan sosial, mengutip pendapata John Lewis Gilln, merupakan variasi dari cara-cara hidup yang diterima masyarakat akibat berbagai macam sebab. Perubahan itu dilatarbelakangi oleh beberapa faktor, yaitu munculnya masalah-masalah baru yang menghasruskan adanya perubahan, pandangan dan sikap yang berbeda terhadap kebudayaan yang ada, masyarakat selalu beru

22 views

Silahkan di share Ke... ?
WhatsApp chat