PTAI BERBASIS RISET PESANTREN

PKBB (Pusat Kajian Bahasa dan Budaya) kembali menggelar Diskusi Ilmiah pada tanggal 08 Oktober 2013 yang lalu di ruang Laboratorium Komputer STAI Al-Qolam dengan mengusung tema “Rancang Bangun Filsafat Ilmiah Keislaman PTAI Riset Berbasis Pesantren”. Tema diskusi yang digagas oleh nara sumber Muhammad Adib, M.Ag. cukup menarik perhatian semua elemen di kampus hijau ini. Diskusi yang dimulai jam14:00 – 17:00 WIB itu, dihadiri seluruh jajaran pimpinan, dosen, serta staf dan karyawan.
Dalam sambutannya, Bapak Drs. Nur Qomari, M.Si. (Ketua STAI Al-Qolam) menyambut baik ide pengembangan arah pendidikan STAI Al-Qolam. “Saya sangat bangga dengan diskusi yang mencetuskan tema semacam ini. Bagi kami, Pimpinan STAI Al-Qolam, sungguh-sungguh merupakan gebrakan baru yang hampir-hampir sepi dari wacana, baik ditataran staf pengajar, maupun ditingkat yayasan sekalipun,” ucapnya.” Tema ini merupakan awal tonggak yang akan ditancapkan dalam pondasi paradigma pendidikan sekolah tinggi kita. Selanjutnya seluruh ranah akademik akan diwarnai oleh bangunan paradigma ini. Mulai dari kurikulum, tatakelola keuangan, sampai prosedur manajemen diharapkan mengarah kepada paradigma baru,” tandas sosok yang sekarang sedang menempuh pendidikan S3 ini.
Menurutnya, sementara ini belum seluruh elemen dilingkungan STAI Al-Qolam membiasakan diri melakukan salah satu dari tridharma perguruan tinggi. “Pada sisi pengabdian kepada masyarakat, staf pengajar kita memang tidak diragukan lagi. Banyak dari mereka aktif secara langsung diranah pengabdian-pengabdian kepada masyarakat, sebab sebagaimana kita ketahui mayoritas mereka sudah menjadi tokoh masyarakat. Oleh karena itu, keterlibatan mereka dalam kegiatan publik, seperti aktifitas kemasyarakatan atau dalam organisasi kemasyarakatan (baca:ormas), sudah sangat dimaklumi. Pada sisi pengajaran, sebagian besar mereka sudah tertata sesuai desain perkuliahan yang baku. Mulai dari kurikulum, silabi, sampai SAP yang mereka buat. Bahkan kebanyakan pengajaran yang merekan selenggarakan sudah berbasis IT,” ungkap Nur Qomari lagi.
“Tetapi persoalan sisi penelitian yang melibatkan para staf dosen masih sangat minim. Memang diakui bahwa hasil karya mereka telah lahir, namun tidak dapat dipungkiri bahwa hasil karya itu tidak sebanding dengan kuantitas dosen kita,” akunya dengan sangat jujur. “Oleh sebab itulah, saya mewakili Pimpinan STAI Al-Qolam, berharap betul diskusi ini menjadi semacam titik landas yang mampu menghantar sekolah tinggi ini terbang jauh tinggi mengarungi tiga darma yang wajib diwujudkan bagi setiap pergurun tinggi, termasuk STAI Al-Qolam. Selanjutnya, kami menyampaikan terimakasih yang sebanyak-banyaknya kepada semua pihak yang telah terlibat di dalam diskusi ini, utamanya kepada Bapak Muhammad Adib, yang telah menggagas ide paradigma baru bagi STAI-Al-Qolam, dan kepada PKBB yang sudah menfasilitasi kegiatan keilmuan semacam ini,” tegasnya menutup sambutannya sebagai Ketua STAI Al-Qolam.
Selama dua dekade terakhir, kata Muhammad Adib mengawali paparan makalahnya, muncul fenomena menarik yang oleh A. Malik Fadjar disebut dengan istilah “sintesa atau konvergensi antara pesantren dan perguruan tinggi”. Di berbagai daerah di Indonesia, semakin banyak perguruan tinggi, khususnya PTAI, yang didirikan oleh pesantren. Fenomena tersebut, di satu sisi, memang bisa dipandang sebagai sebuah langkah maju yang konstruktif. Semua itu menunjukkan bahwa pesantren secara dinamis telah mulai mengembangkan diri agar tidak tertinggal dalam kompetisi dunia pendidikan yang semakin ketat akhir-akhir ini, seraua tetap berusaha melestarikan jati diri, identitas tradisional, dan sistem nilai yang dipegang teguh selama ini.
Namun di sisi yang lain, lanjut Ketua Prodi PAI itu, fenomena di atas sebenarnya masih menyisakan persoalan yang mendasar, yaitu belum jelasnya pijakan paradigma keilmuan. Rumusan “sintesa” seperti apa yang diinginkan hingga saat ini masih menjadi tanda tanya besar. Hal ini bisa terjadi, karena pesantren dan PTAI memang terlanjur dikembangkan dalam paradigma keilmuan yang bersifat dikotomis-atomistik. Selama ini, kedua pusat studi sudah terlanjur akrab dengan dikotomi antara “ilmu agama” dan “ilmu umum”, agama dan sains, antara institusi dan masyarakat, antara kesalehan personal dan kesalehan sosial, dan begitu seterusnya. Ditambah lagi, pesantren dan PTAI saat ini rata-rata masih terlalu terfokus pada transmisi keilmuan di kelas serta belum membangun budaya riset dan pengabdian kepada masyarakat secara serius dan integral. Pesantren dan PTAI rata-rata juga masih cenderung membentuk diri sebagai “komunitas eksklusif” yang relatif tidak bersentuhan atau bahkan mungkin terbelit hubungan yang tidak harmonis dengan masyarakat sekitarnya. Akibatnya, “sintesa” yang terbangun antara pesantren dan PTAI dikhawatirkan hanya akan bersifat artifisial serta tidak akan mampu untuk memecahkan berbagai persoalan kehidupan masyarakat yang begitu kompleks, berlapis-lapis, dan mutidimensional dewasa ini.
Dengan prinsip “pembudayaan riset sedini mungkin”, nara sumber menawarkan adanya “PTAI riset berbasis pesantren” perlu merumuskan struktur kurikulum yang secara garis besar bisa digambarkan sebagai berikut. Pada semester I, mahasiswa menerima sejumlah mata kuliah yang bisa disebut sebagai “Rumpun Mata Kuliah Perspektif” yang memuat semacam pengantar paradigmatik serta memberikan cakrawala baru dan pencerahan pemikiran bagi mahasiswa agar bisa mengenal dan merefleksikan secara kritis realitas kehidupan di mana mereka berada. Mata kuliah yang termasuk rumpun ini, di antaranya, adalah mata kuliah Agama dan Sains, Studi Pesantren (pesantren studies), Studi Aswaja, Studi Maqāshid al-Syarī‘ah, Studi HAM, Studi Demokrasi, Studi Gender, Pancasila dan Kewarganegaraan, dan sebagainya. Pada semester II, mahasiswa menerima mata kuliah “Rumpun Metodologi dan Alat Analisis”, semisal Metodologi Penelitian Kualitatif, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Metodologi PAR, Analisis Sosial, dan sebagainya. Tujuannya adalah agar mahasiswa bisa sejak dini bisa meneliti dan menganalisis secara kritis realitas sosial, realitas sejarah, realitas budaya, dan khazanah ilmu-ilmu keislaman dan kepesantrenan. Setelah memiliki cakrawala berpikir dan kemampuan analisis, maka mahasiswa pada semester III menerima mata kuliah “Rumpun Pengantar Studi Keislaman”, seperti Studi Alqur’an, Studi Hadits, Studi Ilmu Kalam, Studi Tasawuf, Studi Fikih, Studi Ushul Fikih, Kajian Kitab Kuning, dan sebagainya. Kemudian, mulai dari semester IV hingga VII/VII, mahasiswa menerima mata kuliah keahlian yang sesuai dengan program studi atau konsentrasi akademiknya.
Sebelum mengakhiri, dosen yang kini sedang melanjutkan studi S3 itu menyimpulkan bahwa “PTAI riset berbasis pesantren” merupakan salah satu ikhtiar akademik yang berangkat dari kesadaran bahwa pesantren dan PTAI adalah dua pusat studi yang sebenarnya saling membutuhkan satu sama lain. Filsafat ilmu keislaman yang dibangun, mulai ragam asumsi ontologis, epistemologis, dan hingga aksiologis, sepenuhnya bertitik tolak dari serta berpijak di atas paradigma intergrasi-interkoneksi. Rancang bangun filsafat ilmu keislaman yang telah dirumuskan kemudian menjadi titik tolak bagi operasionalisasi “PTAI riset berbasis pesantren”, meliputi visi, profil lulusan, sistem akademik, dan sebagainya. Sudah barang tentu, semuanya harus dirumuskan secara lebih mendetail dalam suatu naskah akademik yang melibatkan secara aktif stakeholders institusi yang terkait.

41 views

Silahkan di share Ke... ?

Leave a Reply

WhatsApp chat