MENGASAH RESPONBILITAS GENDER

 

20140505_092234 - Copy

10/05/2014

Dalam rangka mendukung peningkatan kualitas pelaksanaan penelitian yang sensitif gender, PSGA (Pusat Studi Gender dan Anak) dibawah LP2M (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menyelenggarakan “Workshop Penguatan PUG pada Pendidikan Islam Melalui Penelitian Baseline” di gedung Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada 05 Mei 2014 yang lalu. Workshop yang diikuti mayoritas perempuan itu mendatangkan narasumber Prof. Dr. Keppi Sukesi. MS dan Dr. Hj. Mufidah Cholil, Mag. Salah satu peserta yang diutus menjadi delegasi dari STAI Al-Qolam Gondanglegi adalah Muhammad Madarik, MA.

Dalam sambutannya selaku panitia penyelenggara, Erfaniah Zuhriah, MH, mengungkapkan latarbelakang diadakannya kegiatan ini. “Perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan memiliki peran-peran yang sangat urgen dalam berbagai proses perubahan sosial melalui berbagai produk akademik yang dihasilkan. Salah satu kewajiban akademisi dalam perguruan tinggi yang tertuang dalam tridharma perguruan tinggi adalah penelitian. Penelitian menjadi salah satu daya tarik dan daya ungkit sosial yang luar biasa dalam proses pengrustamaan gender, penelitian yang bagus akan membuka wawasan ilmiah masyarakat dalam melihat realitas yang ada guna mengimplementasikan kesetaraan dan keadilan gender,” ungkap Ketua PSGA UIN Malang itu.

“Dalam pengembangan tugas tridharma perguruan tinggi, PSGA UIN Malang telah memainkan peran cukup signifikan. Dalam hal ini, PSGA begitu proaktif dalam pelaksanaan beberapa hal yang berkaitan dengan sensitifitas gender. Pertama, PSGA selalu aktif mendorong terwujudnya pembelajaran berperspektif gender. Kedua, PSGA terus-menerus mendorong upaya percepatan pengarustamaan dengan meningkatkan kualitas penelitian yang memiliki berbagai program pembuatan desain baseline penelitian berbasis gender,” ungkap Erfaniah.

“Oleh karena inilah, PSGA UIN Malang mengajak perguruan tinggi lain agar mempunyai sensitifitas gender dalam seluruh aspek tridharma secara bersama-sama. Hal ini yang menjadi latarbelakang diselenggarakannya worshop ini,” tegas bu Erfa.

Sedangkan Mufidah Cholil mengawali materinya dengan menjelaskan bahwa PUG (Pengarustamaan Gender) Bidang Pendidikan adalah suatu pendekatan untuk mengembangkan kebijakan pembangunan yang meng-integrasikan pengalaman dan masalah perempuan dan laki-laki dalam proses perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi kebijakan dan program pendidikan di tingkat nasional, daerah, dan tingkat satuan pendidikan guna mencapai kesetaraan dan keadilan gender dalam kehidupan. Tujuan kesetaraan gender bidang pendidikan merupakan kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh hak-haknya dasarnya sebagai warga negara dalam memperoleh akses dan partisipasi serta kontrol dalam bidang pendidikan di PT (perguruan tinggi),  serta sama-sama dapat menikmati hasil pembangunan dalam bidang pendidikan di PT.

Menurutnya, gender sebagai alat analisis di PT bertujuan untuk:(1) menemukenali kesenjangan, baik data kuantitatif maupun kualitatif, (2) mengetahui faktor penyebab kesenjangan gender dari aspek: akses, partisipasi/peran tanggung jawab, kontrol atas sumber daya, manfaat dari hasil aktifitas tridharma perguruan tinggi, (3) menentukan solusi yang tepat untuk mengatasi kesenjangan gender melalui kebijakan, manajemen, perkuliahan, dan budaya PT, dan (4) mengintegrasikan wacana gender dalam tridharma PT.

Strategi integrasi wacana gender dalam perkuliahan, menurut dosen Fakultas Syari’ah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang itu, ialah dengan langkah-langkah: (1) memasukkan kesetaraan gender dalam SAP, (2) pengembangan materi kuliah/buku ajar responsif terhadap isu-isu gender, (3) metode kerkuliahan dengan prinsip PAKEM/CTL responsif gender, (4) media perkuliahan yang responsif gender, (5) evaluasi dengan memperhatikan kesenjangan gender, (6) pengelolaan kelas yang responsif gender (akses, partisipasi, kontrol dan manfaat belajar) bagi mahasiswa, dan (7) budaya ramah gender dalam perkuliahan. Sedangkan strategi implementasi PUG dalam penelitian, kata aktifis yang beralamat di Jl. Simpang Neptunus 8 Malang itu, adalah: (1) memasukkan gender dan pemberdayaan perempuan dalam salah satu klaster penelitian kompetitif, (2) mengintegrasikan gender sebagai alat analisis penelitian dalam semua klaster penelitian, (3) melakukan penguatan gender analisis skill bagi peneliti di PT, (4) melibatkan mahasiswa dalam penelitian, (5) memiliki jurnal PSG di PT, (6) memiliki Pakar penelitian gender di setiap PT, baik internal maupun eksternal, dan (7) bekerjasama dengan pihak-pihak terkait dalam penelitian PUG (profil gender, position paper PUG bidang pendidikan, dan lain-lain).

Sementara itu, Prof. Dr. Keppi Sukesi. MS, mengungkapkan bahwa responsif genderharus   diawali dengan dua hal pokok: (1) kesadaran terhadap permasalahan gender, dan (2) tanggap terhadap solusi dan pemecahan masalah gender. Desain penelitian responsif gender tercermin dalam baseline study, grounded research, survey identifikasi dan pemetaan, studi kasus, action research, eksperimen, dan perspektif  feminist dan atau gender.

Key words dan judul penelitian responsif gender, baginya, bisa dibaca dari beberapa hal, antara lain: (1) minat terhadap suatu bidang dikembangkan menjadi tema/topik penelitian tentang isu/masalah gender, (2) tema dapat mengacu pada roadmap, dan/atau cluster yang telah ditentukan, (3) secara spesifik dapat mengacu pada aktualitas, orisinalitas dan kebaruan ide, dan (4) kekhususan yang mudah dikenali, sehingga menghasilkan kata-kata kunci (key words) dengan kalimat padat, mudah dipahami dan menarik dapat dirumuskan “judul proposal penelitian”.

Permasalahan perempuan dan gender, menurut Keppi, melingkar pada persoalan-persoalan: (1) studi feminis: berawal dari permasalahan femininitas (keperempuanan) dan masculinitas, kemudian berupaya mencari solusi pemecahan masalah, (2) studi wanita: berawal dari permasalahan wanita/perempuan dan berupaya mencari solusi pemecahan masalah, dan (3) studi gender: berawal dari permasalahan struktur dan relasi gender, dan berupaya menemukan keseimbangan gender yaitu KKG (keadilan dan kesetaraan gender).

Sedangkan Drs Syamsul A’dlom, Puket II STAI Al-Qolam, menyambut baik kegiatan ini. Malah, orang asal Madura itu, berharap agar hasil kegiatan ini dapat ditindaklanjuti di kampus hijau ini dengan berupaya melakukan berbagai hal yang bisa mendorong responbilitas gender bagi semua kalangan di STAI Al-Qolam. “Setidaknya, usaha ke arah tersebut segera diwujudkan, misalnya dengan membentuk PSG di kampus kita ini. Tentu saja, dukungan dari seluruh pihak sangat diperlukan, terutama dari jajaran Pimpinan,” imbuhnya.[]

37 views

Silahkan di share Ke... ?

Leave a Reply

WhatsApp chat