Mempeng

MEMPENG!
Oleh: Muhammad Masykur Izzy Baiquni
Tadris Bahasa Indonesia IAI Al Qolam Malang

‘Ora usah tirakat, sing penting mempeng!’
K.H. Abdul Karim, Lirboyo

Bismillah, …
Ujian kenaikan kelas sudah atau sedang berlangsung, mulai tingkat MI/SD sampai dengan Perguruan Tinggi. Kalau ditinggkat dasar sampai meneengah disebut Penilaian Akhir Semester (PAS). Biasanya sekolah-sekolah akan diramaikan dengan tulisan tulisan seperti “Harap Tenang Ada Ujian”, atau kegiatan doa Bersama, atau bahkan ada kursus-kursus sukses ujian.

Siswa, orang tua, guru sangat terlibat dalam proses ujian ini. Semuanya ingin menyelesaikan ujian dengan sukses, lulus dengan nilai terbaik, lalu diterima di Lembaga pendidikan bergengsi dan endingnya selanjutnya bermuara pada pekerjaan yang memiliki gaji nominal yang banyak. Menurut saya, kegelisahan dan ketakutan gagal dalam ujian sampai berlebihan. Siswa takut tidak lulus, wali murid takut anaknya tidak berhasil, guru takut dapat asumsi sekolah tidak bagus karena ada siswa nya yang gagal, atau bahkan dinas terkait merasa tercoreng bila ada siswa di daerahnya tidak lulus atau nilainya dibawah standar minimal yang ditentukan. Sampai-sampai suasana ketika ujian menurut saya jadi sangat angker, hehehe…

Saya mencoba menarik benang merah dari kehawatiran yang ada, dimulai dari takut tidak lulus, tidak lulus karena tidak bisa menyelesaikan soal, tidak bisa karena tidak memahami jawaban, tidak paham karena tidak belajar, tidak belajar karena sering “menikmati” kemalasan.

Mempeng, kalau boleh saya menyamakan dengan istilah tekun, rajin atau sungguh-sungguh. Kata itu menurut saya sudah jarang kita temukan aplikasinya di dalam dunia pendidikan (maksud saya secara umum), atau mungkin karena pemahaman saya yang terbatas dan secara subjektif ini kesimpulan saya. Murid gak mempeng belajar, orang tua gak mempeng nemani anaknya sinau, dan selanjutnya. Suatu ketika Prof Mudjia Raharja mantan Rektor UIN Malang mengatakan bahwa salah satu akibat perubahan zaman adalah oaring lebih suka pada sesuatu yang bersifat instan. Dalam konteks ini mungkin lulus tanpa perlu susah payah belajar tekun.

Akhirnya produk pelajar nantinya seperti anak ayam kehilangan induknya ketika mereka lulus sekolah, bingung mau apa, itu salah satu akibat gak mempeng belajarnya. Petuah jawa mengatakan “sopo tekun, bakal tekan” siapa bersungguh-sungguh.

Saya ingin menarik kata “mempeng” ini kedalam ilmu bahasa, menurut saya mempeng/tekin ini bias masuk ke dalam empat keterampilan berbahasa yaitu 1) tekun menyimak/mendengarkan, anak belajar dengan seksama dan tekun mendengarkan informasi, pelajaran, nasehat atau postulat-postulat yang bagus sesuai dengan usianya, 2) tekun membaca, orang tua dan guru mengajari anak untuk mencintai membaca, membaca ayat qauliyah dan qauniyah, yang tersurat dan tersirat, 3) tekun berbicara, anak belajar berbicara dengan baik kata kata yang indah, hafalan-hafalan pelajaran, menyampaikan pemikiran, dan lainnya. dan 4) tekun menulis, ini merupakan tahap tertinggi di mana anak tekun menuliskan kembali apa yang mereka pelajarai, fikirkan, rasakan, inginkan, dan arapan ke depannya.

Belajar memang perlu terus berulang, bahkan Kanjeng Nabi memerintahkan kita belajar sepanjang hayat. Belajar sangat terkait dengan wahyu pertama yang diterima oleh Rasulullah yaitu Iqra’. Membaca, ya membaca!. Prof Imam Suprayogo seringkali menyebutkan bahwa orang sukses juga diawali dengan kepandaiannya dalam membaca yang tersirat maupun tersirat.

Saya sangat terkesan dengan pepatah Arab yang berbunyi:
Man Jadda Wajada, Man Shara Washala
Siap yang sungguh-sungguh ia akan berhasil/sukses, Siapa yang berjalan pasti sampai

K.H. Mahrus Ali Liboyo berpesan pada santri-santrinya bahwa harus belajar pelajaran yang baru diperoleh dari guru di muthola’ah 11 kali walau pelajaran tersebut sudah paham sebelumnya. KH Djazuli Utsman Ploso berkata “kunci utama mencari ilmu adalah mempeng (rajin) dan tidak ada orang yang berilmu di bawah kolong jembatan menjadi pengemis”. Atau bila kita menelisik sejarah bagaimana para tokoh hebat di Indonesia belajar. Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari salah satu bentuk mempeng-nya adalah beliau menuliskan kembali pelajarannya dalam bentuk esai, rangkuman atau catatan lain.

Karakter mempeng inilah yang menurut pengetahuan saya yang sangat terbatas ini, yang sudah mulai hilang di negeri kita, tentunya mempeng dalam hal kebaikan. Dan mempeng itu tidak bisa kita dapatkan secara instan, perlu pembiasaan disekolah, di rumah, dan di mana saja. Dalam ilmu kepemimpinan kebiasaan akan terbentuk bila dilakukan minimal 21 kali secara berturut-turut.

Menurut saya, guru atau orang tua bila membangun karakter mempeng ini bisa dengan meniru salah satu gaya belajar, yakni belajar system behavioristic. Behavioristic dilakukan dengan memberikan:

  1. Punishment, yaitu siswa diberikan hukuman atau sanki bila tidak melakukan kewajibannya, jadi siswa dipaksa dulu untuk terbiasa belajar.
  2. Motivasi, guru dan orang tua memberikan motivasi terus menerus kepada anak untuk belajar dengan tekun.
  3. Reward, guru dan orang tua memberikan hadiah bagi anak yang bisa meraih target yang sudah ditentukan.

  4. Guru saya, salah satu motivator nasional yaitu Dr. Taufiqi mengatakan kepada saya “rumus sukses orang sukses dasarnya ada empat yaitu H-T-E-M, Happy-Total/tekun/mempeng-Expert-Money”. Ternyata mempeng itu sangat penting!

Wallahu a’lam
Senin, 20 Mei 2019
06.45 WIB

15 views

Silahkan di share Ke... ?

Leave a Reply

WhatsApp chat