NGOBROL BARENG “SANG TRAINER”

Muahammad Masykur Izzy Baiquni

“Hidup itu perjuangan, hidup tanpa perjuangan bukan hidup namanya”
K.H. Imam Zarkasyi, Gontor

Hari ini sesuai rencana, saya sowan ke guru saya yang terkenal sebagai The best trainer 2018,karena ada hal yang menurut saya anggap penting. Sore setelah hujan reda saya sudah tiba di kediaman beliau. Meskipun dengan harapan kedatangan saya tidak mengusik istirahat beliau. Seperti biasa tentu apa yang saya rasa sama seperti santri-santri lain ketika sowan ke gurunya yakni sungkan. Namun saya terbilang sering menyambangi beliau untuk hal-hal yang berbeda. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya saya bertemu dengan beliau dan duduk di sebelah beliau.

Kami berbincang-bincang banyak hal yang menurut saya menarik dan tanpa banyak fikir terkadang saya menanyakan apa yang muncul dalam imajinasi saya. Ada hal-hal yang mungkin bisa bingkai dalam tulisan ini sekedar mengikat ilmu yang saya dapatkan hari ini. Memang saya merasa bersemangat untuk sering berdiskusi dengan beliau dan kalua boleh dibilang ingin menjadi sebuah lembah yang menjadi penampungan ilmu yang beliau sampaikan. Memang saya berusaha berguru pada apa saja yang saya lihat. Semua bisa menjadi guru saya. Semua bisa menginspirasi saya. Dan pengalaman-pengalaman itu tentu adalah sebuah “film” yang kapanpun bisa saya putar di otak saya.

Era Digital Vs Silaturrahim
Makin berkembangnya teknologi di dunia, dalam sekejap diserap dan menjadi gaya hidup di masyarakat. Ada hal-hal positif namun juga hal-hal negative yang mengikutinya. Bahwa silaturahim terutama face to face tidak boleh tergeser karena system digital. Kita harus terus melakukan silaturrahim tersebut karena di dalam agama sudah dijelaskan bahwa minimal orang yang silaturrahim akan mendapatkan kebahagiaan,keakraban, ilmu, rezeki, dan dosa-dosa yang akan terhapus.

Namun memasuki era 4.0 atau bahkan menuju 5.0 ini silaturrahim mulai banyak tercemari oleh faham matrealisme. Dengan pemikiran untung rugi mengenai apa yang di dapat dan apayang hilang secara ekonomi bila kita melakukan silaturrahim. Anda bisa lihat di mana-mana, budaya menunduk ketika berkumpul di warung kopi, kafe, kantor atau di mana saja.maksud saya dalam kosa kata budaya menunjuk adalah kesibukan orang-orang dengan alat komunikasinya/handphone masing-masing. Padahal banyak manusia disekitarnya tapi tetap saja handphone lebih menraik untuk diajak “bicara”.
Handphone membuat manusia yang dekat menjadi jauh dan yang jauh menjadi dekat. Namun, sepertinya rasa kemanusiaan atau interaksi antar manusia mulai pelan-pelan ditinggalkan. Padahal bial kita memperhatikan atau mempelajari budaya negara Jepang yang merupakan salah satu produsen teknologi, mereka tidak seperti kita orang Indonesia dalam menggunakan alat ini, mereka lebih senang focus pada pekerjaan dan banyak membaca buku.

Talent mapping Manusia

Salah satu kegagalan manusia secara umum adalah tidak memahami dirinya sendiri, contohnya jenis kecerdasannya, passionnya, tujuannya, dll. Akhirnya kita terjebak di zona yang bukan wilayah kita. Akibatnya adalah kita tidak merasa nyaman, kita sulit mengembangkan karier, dan yang salah satu terbesarnya adalah sulit mendapatkan kebahagiaan. Maka passion di dalam diri manusia harus bisa dipahami, apa talenta Kita, apa yang harus kita lakukan?
Kita terkadang terjebak dalam pekerjaan berdasarkan ijazah, bukan karena hobi. Ini sudah terjadi di mana-mana. Kesalahan memilih jurusan, yang konon mencapai 87,5 % di Indonesia mengakibatkan negara kita lambat untuk maju.
Jiwa Keikhlasan
Saya masih berpikir mengenai manfaat manusia laksana obor atau lilin. Apa yang harus dilakukan? Bila kita jadi “lilin” maka saya akan bisa bersinar, namun saya akan habis. Obor merupakan simbol semangat, guru, kyai, ulama, atau pendidik terkadang lebih disimbolkan seperti obor. Karena obor diibaratkan semangat yang selalu bergelora.
Jiwa keikhlasan adalah dasar dari kehidupan kita menuju Tuhan. Artinya kita tidak boleh berubah karena cobaan, hinaan, cacian atau bahkan pujian. Sepertinya ini mirip yang diajarkan dalam ilmu tasawuf. Itulah obor, dengan keikhlasan akan terus menjadi pribadi yang membuat nyaman dan damai.
Ketika berdiskusi atau berkomunikasi,buatlah semuanya merasa damai, senang dan bahagia. Ini merupakan salah satu titik tertinggi dari ilmu komunikasi. Rasa ini terkadang kita rasakan bila kita dekat atau berkumpul dengan orang-orang yang nyambung batinnya dengan Allah. Guru, kyai, ulama seharusnya bisa begitu-meskipun juga sudah banyak yang begitu. Maka, kebersihan hati, tutur kata yang merupakan perwujudan dari akhlak, dan dalamnya ilmu pengetahuan semestinya ada di dalam diri kita. Gus Mus sering berkata bahwa hati hanya bisa disentuh oleh hati. Tentunya hati yang beninglah yang bisa menjadi cermin dari hati yang lain.
Bergeraklah terus memperbaiki diri, karena manusia itu target yang bergerak. Inilah mungkin pandangan yang sangat jauh ke depan dari tuntunan Nabi Muhammad saw., “mencari ilmu hukumnya fardhu ain bagi laki-laki dan perempuan”. Atau tuntutlah ilmu mulai dari ketika bayi sampai ajal menjelang.
Ah, ini mungkin hanya sebagian kecil yang saya fikirkan. Paling tidak ada hal yang bisa saya tulis hari ini

Wallahu ‘alam
22.45 wib
Kamis, 28 februari 2019

41 views

Silahkan di share Ke... ?

Leave a Reply

WhatsApp chat