BERPIKIR ALA PRESIDEN JOKOWI

Oleh: Muhammad Masykur Izzy Baiquni
Dosen Tadris Bahasa Indonesia
Institut Agama Islam Al Qolam Malang

“Antusiasme yang sejati terbentuk dari dua bagian: hasrat dan keyakinan” (Dale Carnegie)

Indonesia sudah memasuki era kedua pada masa pemerintahan Presiden Jokowi. Kali ini Presiden Jokowi didampingi oleh Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin, seorang kyai yang sangat dikenal alim dan berwawasan jauh ke depan khususnya dibidang ekonomi. Ini merupakan perpaduan yang unik dan bisa saja lengkap karena tipikal presiden yang giat bekerja dan didampingi seorang wakil yang diyakini dekat dengan Tuhan karena unsur keturunan, ilmu, dan kebijaksanaannya.

Saya tertarik dengan pesan singkat yang disampaikan oleh Presiden Jokowi ketika memberikan pidato berupa pesan-pesan kepada para Menteri yang baru saja diangkat untuk membantunya. Ketertarikan saya ini lebih condong dalam keterkaitannya dengan era 4.0 yang sedang ramai-ramai disiapkan dan dibicarakan di negara kita. Secara lebih spesifik saya ingin mengaitkan pidato presiden ini dalam ranah organisasi dan level kepemimpian.

Sudah menjadi cerita umum bahwa Indonesia harus segera mengejar ketertinggalan dari Negara Jepang dan Cina yang sudah menyiapkan masuk pada era 5.0. sedangkan Indonesia di era yang masih siap siap 4.0 harus segera menyesuaikan diri dengan perkembangan abad XXI. Menyambut abad XXI ini, Banyak keterampilan yang harus segera kita kuasai yaitu (1) life and career skills, (2) learning and innovation skills, dan (3) information skills.

Pesan-pesan di dalam pidato Presiden yang disampaikan yaitu;:

Pertama, jangan korupsi!, Ciptakan sistem yang menutup celah terjadinya korupsi. Memang tidak aneh jika Presiden menyampaikan ini pada point prioritas yang pertama, karena ini adalah wujud dari integritas seseorang. Saya teringat dengan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Thomas J Stanley di Amerika Serikat yang mana hasil dari penelitiannya mengahsilkan simpulan bahwa kejujuran (being honest with all people) adalah faktor teratas dari kesuksesan seseorang. Ketika menunjukkan kejujuran dalam perkataan yang sejalan dengan tindakan di mana pun atau dengan siapa pun dia berada. Sayangnya, nilai kejujuran ini telah menjadi sesuatu yang langka. Standar-standar pribadi hancur di dunia yang mementingkan kesenangan pribadi dan jalan pintas menuju kesuksesan. John D. Rockefeller Jr. berkata, “Saya yakin, dalam setiap hak terkandung sebuah tanggung jawab; dalam setiap kesempatan, ada kewajiban; dan dalam setiap hal yang kita miliki, ada sebuah tugas.”

John C Maxwell (2017) di dalam bukunya Developing The Leader Within You bercerita bahwa John Danziger dalam cerita kartun yang dibuatnya menceritakan tentang seorang presiden perusahaan yang mengumumkan pada stafnya, “Saudara-saudara, trik tahun ini adalah kejujuran.” Dari satu sisi meja rapat, seorang wakil presiden terkesipa, “Brillian.” Di seberang meja, wakil presiden lainnya bergumam, “Tapi sangat berisiko.” Mungkin ini bisa saja mudah namun tak menutup kemungkinan ini akan sulit.

Kejujuran bukan hanya menjadi juri diantara dua keinginan yang berbenturan, inilah titik yang sangat penting antara hati yang Bahagia dengan jiwa yang terbagi. “Kunci pertama untuk menjadi besar,” ungkap Socrates, “adalah jujur dengan apa yang kita tampilkan.” Kita terlalu sering berusaha menjadi “seperti manusia” sebelum menjadi “manusia seutuhnya”. Untuk mendapatkan cinta, kasih sayang dan kepercayaan, seorang pemimpin harus menjadi autentik. Agar hal itu bisa terwujud, karakter kita harus seperti komposisi music yang baik_lirik dan musiknya harus sesuai.

Kedua. Tidak ada visi dan misi Menteri. Hanya ada visi dan misi presiden dan wakil presiden. Ada dua alasan mengapa visi sangat penting. Satu, karena visi menjadi pembeda dalam sebuah organisasi. Dua, visi menjadi alat kendali baru, visi adalah kunci yang yang terus menjaga fokus semua orang. Namun, bia dalam sebuah organisasi, visi yang dimiliki terpecah dan saling tidak mendukung, maka yang terjadi adalah ketidakjelasan arah. Persatuan penting bagi pencapaian mimpi. Setiap pemimpin besar memiliki dual hal: mereka tahu tujuan mereka, dan mereka mampu meyakinkan yang lainnya untuk mengikuti. Karena setiap pemimpin harus terus menjaga hidupnya harapan-harapan dan mengeluarkan optimisme dalam diri orang-orang yang dipimpinnya. Seperti kata Napolen, “Pemimpin adalah penjual harapan.”

Pemimpin yang memiliki visi, meyakini bukan hanya apa yang ia bayangkan bisa dikerjakan, namun bahwa hal itu harus dilakukan. Namun tahukah Anda bahwa menurut survei yang dilaporkan majalah Leadership, mengomunikasikan visi adalah bagian yang paling membuat frustasi dalam memimpin sebuah organisasi. Pada sebuah artikel majalah Leadership, Lynn Anderson mendeskripsikan apa yang terjadi ketika orang-orang kehilangan visi. Sekitar empat ratus tahun yang lalu, sekelompok peziarah mendarat di pantai Amerika. Dengan visi besar dan keberanian, mereka menetap di tanah baru. Di tahun pertama, mereka mendirikan sebuah kota. Di tahun kedua, mereka mengangkat dewan kota. Di tahun ketiga, pemerintah mengajukan pembangunan jalan lima mil ke arah barat menuju pedalaman. Namun, di tahun keempat, warga kota menyalahkan dewan kota karena mereka piker jalan menembus pedalam hutan adalah pemborosan uang rakyat. Meskipun mempu menyeberangi lautan, sekarang mereka tidak mampu melihat lima mil ke pedalaman. Pikiran terakhir yang terlintas dibenak saya tentang visi ini ketika saya teringat dengan perkataan Theodore Hesburgh, “Esensi terpenting dari kepemimpinan adalah memiliki visi yang bisa Anda ucapkan dengan jelas dan lantang di setiap kesempatan. Anda tidak bisa meniupkan terompet dengan ragu-ragu”, dan sepertinya ini yang dikumandangkan oleh Presiden kita.

Sekali lagi, menurut Dale Carnegie dalam Bagaimana Memimpin Diri Sendiri dan Orang Lain untuk Meraih Posisi Puncak, “Identitas pemimpin merupakan sesuatu yang jauh lebih besar daripada identitasnya sebagai individu. Dia Adalah perwujudan dari identitas kelompoknya…dia harus mampu menomunikasikan visinya secara tegas, baik melalui kata-kat maupun tindakan.”

Ketiga, semua harus bekerja cepat, kerja cerdas, dan produktif. Produktivitas menjadi Batasan dan membedakan antara pemimpin yang bisa membuat pengaruh besar dalam organisasi dengan orang-orang lain yang memiliki jabatan namun tidak memberikan pengaruh apapun.  John C. Maxwel menyebutkan bahwa pemimpin pada level produktivitas ini menempati level ketiga dalam tingkatan kepemimpinan. Pemimpin sejati tahu cara menjadi produktif dan mengajarkan cara itu pada orang-orangnya. Ucapan mereka didukung oleh tindakan mereka. mereka memberikan hasil. Mereka menjadi contoh. Reputasi mereka dibangun di ats hasil kerja mereka dan hasil itu biasanya membungkam orang-orang yang mengkritik mereka.

Ada banyak nilai lebih dalam pengembangan produktivitas di sebuah organisasi yaitu: (1) kepemimpinan yang produktif membuat orang-orang memercayai sang pemimpin, (2) kepemimpinan yang produktif menjadi contoh dan standar yang bisa dilihat dengan jelas oleh orang lain, (3) kepemimpinan yang produktif membuat gambaran akan masa depan menjadi jelas dan realistis, (4) kepemimpinan yang produktif memecahkan banyak masalah, (5) kepemimpinan yang produktif menciptakan kemampuan untuk terus mengembangkan diri, dan (6) kepemimpinan yang produktif adalah dasar untuk membangun tim.

Keempat, jangan terjebak rutinitas yang monoton. Guru saya Mr Vicky sering berpesan dan mengingatkan saya untuk keluar dari zona nyaman, tidak terjebak rutinitas semu dan mulai berpikir untuk selalu berkarya. Robert T. Kiyosaki dalam beberap bukunya yang best seller juga menyinggung tentang zona nyaman ini, maksud saya adalah kebiasaan umumnya masyarakat lebih suka pada rutinitas yang dilakukannya setiap hari. Ternyata, kebiasaan dalam hal ini rutinitas membuat saya melakukan berbagai hal tanpa banyak berpikir. Ini salah satu alasan mengapa banyak sekali yang memertahankan rutinitas.

Saya sangat terkesan dengan ajaran yang disampaikan oleh Trimurti pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, di mana salah satunya yaitu KH. Raden Imam Zarkasyi sering dawuh “Kerja Keras, kerja cerdas, berjiwa ikhlas,” karena di dalam setiap manusia sudah disiapkan modal oleh Allah yaitu: (1) otot, untuk mengerjakan, agar sempurna hasil kerjanya, (2) otak, untuk berpikir, agar bisa bekerja cerdas, dan agar otot bisa melakukan hal yang strategis, dan (3) hati, untuk membuat kita ditaati dalam mengajak, dalam memimpin orang.

Kelima, kerja yang berorientasi pada hasil nyata. Tidak hanya sekedar menirim pesan, tapi making delivered. Banyak orang yang memunyai ide namun hanya sedikit orang yang mampu merealisasikannya. Banyak juga orang yang merasa sudah berbuat hanya dengan menghasilkan ide. Padahal, jika hanya ide yang kita hasilkan, itu belum tuntas, belum terbukti dapat direalisasikan. KH. Raden Imam Zarkasyi Gontor berkata, “Sesungguhnya semua amal itu harus sampai selesai. Jika suatu perbuatan itu belum selesai, maka artinya dia itu belum beramal.”

Keenam, selalu turun untuk mengecek masalah di lapangan dan temukan solusinya. Salah satu model kepemimpinan adalah kepemimpinan transformasional, salah satu komponennya adalah intellectual stimulation (Mardiyah, 2013). Peter Senge menyebutnya sebagai learning organization, dia menjelaskan bahwa  pemimpin harus bisa mendorong bawahan untuk memikirkan kembali cara kerja dan mencari cara-cara kerja baru dalam menyelesaikan tugasnya. Saya juga masih berfikir bahwa Presiden kita ingin mengembangkan cara-cara kerja baru dalam mempercepat menyelesaikan tugas-tugas bawahannya. Apabila pengaruh ini berhasil akan menimbulkan semangat belajar yang tinggi. Maslah tidak aka nada habisnya, tetapi kita bisa menghentikan masalah. Saran ini mungkin ada baiknya bila saya lakukan bila smua itu terjadi yaitu (1) buatlah komitmen waktu untuk orang lain, dan (2) jangan pernah menyelesaikan suatu masalah untuk orang lain, pecahkanlah masalah Bersama orang yang bersangkutan.

Ketujuh, semua harus selalu serius dalam bekerja. Tindakan dan sikap orang ditentukan dari cara dia berpikir, atau bagaimana dia memikirkan sesuatu. Dari cara berpikir memunculkan motivasi, kehendak untuk berbuat atau tidak berbuat. Nah, dari cara berpikir inilah akan diketahui kualitas orang. Mentalitas orang menentukan kualitas.

Ini pikiran saya, bila Anda berbeda, tentu sebuah kewajaran!

Wallaahu a’lam

Malang, 21.00 wib

Ahad 27 Oktober 2019

120 views

Silahkan di share Ke... ?

Leave a Reply

WhatsApp chat