LITERASI, SEBUAH ANCAMAN?

Oleh: Muhammad Masykur Izzy Baiquni
Kepala Program Studi Tadris Bahasa Indonesia IAI Al Qolam Malang
mzizzybq@alqolam.ac.id

“Orang yang sehari saja tidak membaca, maka pembicaraanyya tidak enak lagi untuk didengar.” (John F. Kennedy)

Manusia sesungguhnya lebih senang dihibur dari pada dididik. Maka dari itu perlu pendidikan yang menyenangkan untuk dikembangkan. Namun permasalahan pendidikan yang sering membelenggu kita saaat ini seperti. a) dari sisi sumber daya guru-guru, materi, siswa banyak berkumpul di sekolah yang status ekonominya lebih memadai. b) terjadinya ketimpangan pemerataan guru, murid dan sumberdaya. c) masalah bullying yang cukup tinggi. d) dari sisi growth mindset, Siswa tidak merasa bahwa mereka bisa mencapai potensi lebih baik dari yang dia berada, ini karena rendahnya optimisme terhadap diri sendiri. Penyebabnya karena tolak ukur yang dijadikan hanya satu angka dalam ujian, maka sikap objektif yang harus ditanamkan guru-guru bukan hanya pembelajaran sehari-hari tetapi juga harus menanamkan kepercayaan diri pada setiap murid. e) kesenjangan antara sekolah negeri dengan sekolah swasta, padahal di negeri-negera berkembang seperti di Brazil sekolah swasta lebih baik dari sekolah negeri.f6) minimnya akses guru terhadap pengenalan literasi, dan g) minimnya rasa ingin tahu terhadap ilmu pengetahuan.

Kita harus prihatin terhadap masalah yang terjadi di negara ini, khususnya budaya membaca, berpikir, dan menulis. Kita lebih sibuk dengan membaca status di media sosial dari pada membaca buku. Dalam sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh We Are Social dan Hootsuite, terungkap bahwa masyarakat Indonesia sangat aktif mengunjungi media sosial. Pada januari 2018 total masyarakat Indonesia yang berjumlah 265, 4 juta, telah memiliki pengguna internet mencapai 132,7 juta orang. Menurut data United nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 2012,  keseriusan membaca kita hanya 1:1000, artinya dari 1000 orang hanya 1 orang yang punya minat baca secara serius. Dari Singapura saja kita masih tertinggal jauh.

Literasi? Sepertinya ini yang sangat menghawatirkan kita. Literasi terkait dengan kegiatan a) membaca sebagai sarana untuk memahami informasi dan ilmu pengetahuan, b) berpikir dalam mengembangkan informasi dan ilmu pengetahuan dalam memahami kehidupan lebih eksplorati dan elaborative, dan berkarya dan bersikap dalam mengapresiasikan dan mengaktualisasikan pemahaman ilmu pengetahuan dan informasi dalam kehidupan sehari-hari, Suwandi (2017).

Literasi merupakan kemampuan dasar seseorang dalam kehidupannya, literasi merupakan kemampuan mengakses ilmu pengetahuan dan informasi secara kompleks dan komprehensif. Dengan kemampuan literasi ini masyarakat khususnya dalam hal ini pelajar memiliki kemampuan pemahaman kritis dan analitis terhadap informasi dan ilmu pengetahuan. Kemampuan literasi akan membawa peningkatan terhadap derajat hidup dan kesejahteraan seseorang.

Kemampuan literasi dimulai dengan kemampuan membaca, membaca apa saja. Memasuki revolus era 4.0, peran membaca sangat penting bagi kita. Sebab dengan kemampuan membaca yang dimiliki, kita akan mudah menggunakan informasi dan ilmu pengetahuan untuk mengembangkan dan mengaktualisasikan diri dalam bersikap dan berkinerja bagi kehidupan yang lebih baik. Maka dari itu literasi digalakkan di segala bidang, ada literasi masyarakat, literasi keluarga, dan literasi sekolah, yang kemudian disebut dengan literasi nasional.

Literasi membaca dimulai dari keluarga. Di rumah seharusnya anak lebih mudah mengakses buku di rumah, buku mudah terjangkau, buku lebih sering terlihat dari pada televisi, Orang tua mengomunikasikan buku atau membacakan buku di depan anak-anak. Dan peran orang tua di kelas diemban oleh guru. Setiap rumah harus memiliki perpustakaan. Bahkan kalau di negara Finlandia ataupun Jepang, ketika orang akan menikah, ketika seorang ibu mau melahirkan, tetangga yang berkunjung menyelipkan buku bacaan dalam hadiah mereka. anak-anak sebelum tidur dibacakan cerita, anak dibelikan buku dan setelah mereka membaca maka orang tua akan menanykan apa hasil dari bacaan mereka, ataupun setelah itu mereka diminta menuliskan hasil bacaan mereka menjadi sebuah karangan. Dari sini proses mengajarkan anak mencintai membaca bukan mengajarkan anak bisa membaca.

Prof. Imam Suprayogo menjelaskan dengan sangat indah bahwa keberhasilan seseorang dalam hidup diawali dengan kemampuan membaca. Pedagang bisa membaca pasar, seniman membaca penggemar, guru membaca kebutuhan muridnya. Taufiq Ismail sastrawan kenamaan Indonesia pernah menyebut bahwa rendahnya kebiasaan membaca di sekolah-sekolah sebagai tragedi nol buku. Ini merupakan penyakit kritis yang harus segera disembuhkan, dan bila ini tidak bisa disembuhkan maka tragedi kekeringan ilmu pengetahuan akan terjadi.

Guru dianjurkan melakukan perubahan paradigma belajar, dari memaksa anak belajar apa yang kita anggap terbaik, berubah menjadi memberi apapun dukungan untuk membaca apapun yang dia sukai, dia cintai. Disitu akan memberikan efek dimana dia merasa bahwa membaca adalah sesuatu hal yang baik. Karena pembelajaran akan berkembang lebih baik bila dikembangkan dengan sesuai dengan passion mereka, bukan dipaksa untuk mengerti. Contohnya belajar bahasa diajarkan dengan mencintai materi membaca, menonton film, drama dan permainan lain.

Minat membaca yang rendah membuat kita tidak produktif. Jangankan membaca pada ranah keilmuan lain yang lebih luas, membaca keilmuan sendiripun banyak dari kita yang malas. Akibatnya, ketika kita tidak memiliki pengetahuan maka kita tidak akan menulis, tidak akan percaya diri, mudah termakan isu hoax, tidak punya ide. Coba bayangkan, berapa ribu ide yang akan kita peroleh ketika kita membaca. Prof Muhammad Quraish Shihab (2017) berkata bahwa membaca lebih menenangkan dari pada mendengarkan musik. Membaca mengeluarkan orang dari mental block. Membaca bagaikan kapak yang memecahkan salju penghambat perjalanan seseorang. Bacaan bermutu adalah teman terbaik dan paling setia sepanjang masa.

Kita bisa mencontoh tokoh-tokoh hebat adalah seorang pembaca yang ulung. Orang barat berkata  “Every leader is reader”. Diantaranya, Gus Dur pernah membaca semua kitab yang ada di perpustakaan al Azhar Mesir, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’arie dikenal memiliki perpustakaan terbesar waktu itu. KH Sahal Mahfudz memiliki koleksi berjumlah 1800-an judul buku.

Saya pikir kita perlu segera keluar dari zona nyaman ini, ada tiga pendukung kuat sehingga orang tertarik membaca, yaitu ketersediaan buku, kemampuan membaca, dan minat membaca. Sekolah atau Universitas memiliki peran besar untuk meningkatkan kualitas siswa/mahasiswanya seperti  menyediakan pojok buku (book corner), melakukan kampanye membaca, dan meningkatkan kemampuan membaca siswa/mahasiswanya.

Saya bersyukur pada awal tahun nanti, saya akan bertemu dan berkumpul lagi  dengan komunitas penggiat literasi nasional yang tergabung dalam Sahabat Pena Kita. Suatu komunitas yang terdiri dari kalangan ulama seperti kyai, ustadz, bahkan intelektual kampus yang sudah meraih predikat professor. Suatu komunitas yang sangat dikenal di kancah nasional. Willian Nicholson penulis Inggris Raya berkata “Kita membaca untuk tahu bahwa kita tidak sendirian.” Mari berliterasi…selanjutnya terserah Anda!.

Wallaahu a’laam.

Malang, 15 Desember 2019.

Silahkan di share Ke... ?