MENDESAIN KAMPUS DALAM FILOSOFI NGOPI

Oleh: Muhammad Masykur Izzy Baiquni
Dekan Fakultas Tarbiyah IAI Al Qolam Malang
Penikmat kopi

“Pendidikan adalah tiket ke masa depan. Hari esok dimiliki oleh orang-orang yang mempersiapkan dirinya sejak hari ini”
-Malcom Gladwell-

Dunia sedang mengalami perubahan besar-besaran yang terjadi hampir di seluruh strata dengan munculnya revolusi Industri 4.0 dan kemudian diimbangi dengan Society 5.0. Perubahan ini membawa imbas yang sangat besar terhadap pola pikir, strategi, bahkan kehidupan kampus sebagai sebuah institusi yang menghasilkan para sarjana-sarjana yang harus menjadi generasi yang berkiprah dan generasi bermakna. Para sarjana nantinya harus berani bermimpi besar dan melakukan hal besar. Karena sarjana adalah salah satu kekuatan terpenting bagi perjalanan bangsa ke depan.

Kita perlu banyak belajar untuk terus berkolaborasi dengan siapa saja demi mengimbangi kemajuan zaman. Prof Rhenald Kasali, Klaus Schwab, Jack Ma, dan Clayton M Christensen bisa menjadi ajang pembuka paradigma ini. Problem Pendidikan yang terjadi di negara kita, khususnya di instansi pendidikan kita harus segera dicari solusinya. Prof Vincent Gaspers memberikan klasifikasi tentang pendidikan berwatak pedagogi yang merupakan praktik Pendidikan 1.0. Pendidikan kita belum berhasil bertransformasi ke pendidikan andragogi yang menjadi penciri Pendidikan 2.0 dan 3.0, apalagi praktik heutagogi yang memberi ruang ke mahasiswa mendesain belajarnya sendiri.

Pandemi Covid-19 telah menyadarkan dunia pendidikan bahwa dunia pendidikan kita belum siap, dan kini saatnya melakukan perubahan sistem pembelajaran/perkuliahan serta melibatkan berbagai elemen di luar instansi pendidikan. Bisa jadi, kelak sistim Pendidikan tak ubahnya seperti orang yang dating ke kedai kopi untuk ngopi, ia membeli kopi, meracik kopinya sendiri lalu menikmati kopi hasil racikannya. Sedangkan sang penjual hanya memposisikan diri sebagai konsultan ketika sang pembeli menginginkan kualitas kopi yang diinginkan.

Para penggerak pendidikan khususnya di kampus perlu menyiapakan diri dan mulai berbenah. IAI al Qolam Malang sebagai salah satu kampus yang mulai berkembang perlu mencoba beberapa hal dasar, yaitu: Pertama; Bagaimana dan mensinergikan kebijakan pemerintah terhadap kampus dalam hal pengembangan SDM,ini dikarenakan SDM lulusan perguruan tinggi masih banyak yang memiliki daya saing lemah, bahkan belum terampil dalam bidang yang digeluti. Perlu adanya perombakan kurikulum besar-besaran di berbagai program studi. Program unggulan di masing-masing prodi perlu dimunculkan dari ketenggelamannya. Sehingga muncul buah-buah keunggulan misalnya dalam bentuk jurnal, buku, bahkan kalau bisa sampai haki dan hak cipta. Kalua perlu mungkin kita perlu mendirikan lembaga Sertifikasi profesi. Maka, untuk mendukung program pemerintah diperlukan manajemen kurikulum transdisipliner yang dinamis dan flesibel dan mengandalkan integrasi cyber dan physical sytem.

Kedua; Memposisikan peran al Qolam dalam menghasilkan SDM yang unggul, ini bisa dimulai denagan mengembangkan kurikulum trandisipliner. Dengan pendekatan kurikulum sesuai kapabilitas dengan life-based learning. Kampus perlu memberikan kesempatan bagi dosen-dosen dan mahasiswa agar memiliki kreativitas dan inovasi yang tingggi untuk membangun SDM yang unggul berdaya saing tinggi. SDM yang unggul bisa dirancang juga dengan berbagai program awal yakni pengembangan kompetensi, penguatan karakter dan mental, penguasaan bahasa asing, dan persiapan lulusan sesuai kebutuhan masyarakat.

Al Qolam harus lebih dahulu menyiapkan sumberdaya manusianya. Penting mendahulukan integrasi sumberdaya manusia sebagai landasan sistem teknologi. Kejadian yang sering terbalik adalah, lembaga lebih dahulu menerapkan integrasi sistem teknologi sebelum mempersiapkan sumber daya manusianya. Kampus harus mempersiapkan sumber daya manusia dengan cara menggali ide-ide yang ada di setiap tenaga pendidik dan dikembangkan, baik dari sisi kompetensi dan karakternya

Ketiga; Mempertahankan eksistensi al Qolam dalam persaingan antar kampus, paradigma awal yang tertancap di dalam pikiran adalah persaingan, maka ini perlu ada perubahan paradigma dari sebelumnya berbasis kompetisi menjadi koopetisi. Kampus perlu mengembangkan jaringan luas dengan berbagai perguruan tinggi melalui kerja sama kurikulum antar perguruan tinggi. Kita bahkan perlu berkawan dengan dinamika perubahan zaman. Kita harus bisa mendorong lulusan kampus IAI Al Qolam bisa ikut bermain mencapai kesuksesan bersama dalam era disrupsi dan 5.0 Society. Mahasiswa harus mamu adaptif terhadap tren baru yang semakin bermunculan.

Keempat; Membangun sinergi antara al Qolam dengan bisnis dan industri. Guncangnya dunia karena Pandemi Covid -19 yang menggoyang habis perekonomian global, diikuti dengan turun drastisnya penghasilan per-kapita negara hingga pemecatan karyawan besar-besaran yang menaikkan resiko kejahatan, perlu dijawab dan diselesaikan dengan SDM yang kreatif, berkarakter, dan bisa bertahan. Ini bisa jadi kita mulai dari dalam diri kampus sendiri dengan menyiapkan tiga bidang yaitu Excellent of People, Excellent of Platform, dan Excellent of Process Education. Perlu diperbanyak kerjasama dengan bisnis dan industri melalui program magang bersertifikasi kemitraan dengan BUMN, Perusahaan, bahkan dengan instansi pemerintah.

Wallahu a’lam.

Sabtu, 12 September 2020

Silahkan di share Ke... ?

Leave a Reply